Kamis, 19 Juli 2018

Polres Pasuruan Gelar Nobar Film Kisah Bom Thamrin

PASURUAN – Sebuah film drama aksi berjudul “22 Menit”, karya sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita, mulai Kamis (19/07/2018) hari ini ditayangkan secara serentak di seluruh kota di Indonesia, termasuk di Pasuruan. Film berdurasi kurang lebih 75 menit ini, mengangkat kisah keberanian masyarakat dan aparat kepolisian dalam mengatasi serangan terorisme di kawasan Plaza Sarinah, tepatnya di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, pada tanggal 14 Januari 2016 silam. Film “22 Menit” ini, didedikasikan sebagai bentuk dukungan dan penghormatan kepada para korban tragedi bom Thamrin, yang dibuat ala film dokumenter, sebagai bentuk perlawanan terhadap aksi terorisme. Film ini menggambarkan peristiwa, bagaimana aparat kepolisian bersama dengan masyarakat, dalam upayanya memerangi terorisme.

Diangkat dari kisah nyata, film ini menceritakan serentetan peristiwa ledakan bom, dimana sedikitnya terjadi enam ledakan bom dan penembakan di daerah Plaza Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, tepatnya pada tanggal 14 Januari 2016 silam. Sebagaimana diketahui bahwa ledakan terjadi di dua tempat, yakni didaerah tempat parkir Menara Cakrawala, gedung sebelah utara Sarinah dan sebuah pos polisi di depan gedung tersebut. Dari kejadian tersebut, delapan orang tewas termasuk para pelaku pengeboman dan puluhan masyarakat terluka.


Nah, Kamis (19/7/2018) sore tadi Polres Pasuruan bersama dengan FORKOPIMDA dan Polres Pasuruan Kota mengadakan nonton bareng film “22 Menit” itu di Bioskop NSC Kota Pasuruan. Tampak Kapolres Pasuruan AKBP Raydian Kokrosono beserta jajarannya, Kapolres Pasuruan Kota AKBP Rizal Martomo, Dandim 0819 Letkol Inf Mulliadi, Sekda Pemkab Pasuruan Agus Sutiaji serta undangan lainnya hadir diacara nobar tersebut. Menurut Sekda Agus Sutiaji, Film “22 Menit”, adalah sebuah tayangan yang bisa memberikan banyak pelajaran, kepada seluruh masyarakat untuk mengantisipasi maupun melawan aksi terorisme yang terjadi belakangan ini. “Filmnya bagus, karena mengandung banyak pesan kepada masyarakat di dalamnya. Jadi selain sebagai antisipasi, masyarakat diharap tidak hanya mengandalkan kepolisian saja dalam menumpas terorisme, melainkan menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Sekda usai menonton film tersebut.


  1. Sementara itu, Kapolres Pasuruan AKBP Raydian Kokrosono menyampaikan bahwa Film “22 Menit”, sangat layak menjadi tontonan seluruh anak bangsa, karena diangkat dari sebuah kisah nyata yang terinspirasi dari kejadian Bom Thamrin pada 2016 lalu. Terlebih mengisahkan tentang upaya Polri dalam menanggulangi aksi terorisme yang hanya membutuhkan waktu 22 menit untuk mengatasinya. “Film ini berjudul “22 Menit”, karena butuh waktu 22 menit bagi Polri untuk meringkus teroris saat Bom Sarinah alias Bom Thamrin terjadi di Jakarta, Januari 2016 lalu. Ada banyak pesan yang disampaikan kepada masyarakat dalam film ini,” urai AKBP Raydian.
    Pesan yang dimaksud antara lain, apabila mendengar ledakan, masyarakat diharapkan tidak malah mendekat, melainkan harus segera menjauh dari lokasi ledakan. Tak hanya itu saja, dalam film tersebut juga tersirat harapan kepada masyarakat, agar dapat bersama-sama saling menjaga lingkungan masing-masing, dalam mengantisipasi segala bentuk ancaman terorisme. Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, sebagian dari penjualan tiket film ini akan diberikan atau didonasikan kepada korban Bom Thamrin, baik yang mengalami luka, maupun yang meninggal dunia sebagai bentuk rasa kepedulian terhadap para korban. (cbt)


from Halo Dunia Network https://ift.tt/2O5jSjk
via IFTTT
Read more ...

Senin, 16 Juli 2018

Banjir Peminat, Hanura Sampai Tolak-Tolak Bacaleg

SURABAYA – Ditengah kekhawatiran sejumlah Parpol untuk memenuhi kuota Bacaleg yang akan didaftarkan ke KPU, guna bertarung dalam konstetasi Pileg 2019 mendatang. Partai Hanura justru “kebanjiran” minat para Bacaleg yang mendaftar lewat partai besutan Wiranto tersebut. Hal ini tentu saja membuktikan bahwa elektabilitas Partai Hanura semakin meningkat dan semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Sejumlah masalah internal, maupun dualisme kepemimpinan pengurus yang sempat terjadi di partai yang mempunyai nomor urut 13 tersebut, tidak menyurutkan tingginya animo masyarakat untuk berjuang dan berkarya serta mengabdi melalui Partai Hanura.
Hal itu ditegaskan oleh Ketua DPD Partai Hanura Jatim, H.Kelana Aprilianto Senin (16/7/2018) malam. Meski batas akhir pendaftaran Bacaleg akan ditutup pada Selasa (17/7/2018) besok, namun berkas-berkas pendaftaran Bacaleg Partai Hanura Jatim masih belum diserahkan ke KPU, karena panitia penerimaan Caleg, masih melakukan pemeriksaan dan verifikasi akhir terhadap berkas-berkas milik Bacaleg yang mendaftar. “Iya, besok akan saya serahkan berkas-berkas para Caleg Hanura ke KPU. Karena ini masih kita lakukan penyempurnaan berkas, biar tidak ada revisi ataupun syarat yang kurang,” ujar Kelana Aprilianto, saat dihubungi Senin malam.
Seperti diketahui, KPU RI menerima atau membuka pendaftaran para Caleg, mulai tanggal 4 hingga 17 Juli besok. Selanjutnya akan diteruskan tahap verifikasi bagi berkas-berkas yang telah lolos tahap seleksi awal. Dari informasi yang didapat, kuota Bacaleg Partai Hanura Jatim untuk DPRD Kabupaten/Kota se-Jatim sebanyak 1.695 bacaleg. Sementara yang sudah mendaftar, jumlahnya sudah melebihi kuota yang ada. “Alhamdulillah peminat Caleg dari Partai Hanura sudah melebihi kuota yang ada, atau “melimpah”. Bahkan kami sampai menolak-nolak Bacaleg yang mau mendaftar,” jelas Kelana Aprilianto, yang juga ikut maju menjadi Bacaleg DPR RI 2019-2024 mendatang.
Kelana menambahkan, bahwa di tengah-tengah partai politik yang kesulitan menjaring para Bacaleg. Partai Hanura yang sempat dilanda konflik kepengurusan, justru semakin banyak diminati oleh Bacaleg. “Masyarakat sekarang sudah cukup pintar untuk menilai dan melihat apa yang terjadi di lapangan. Mohon maaf kepada semua Bacaleg yang sudah mendaftar, namun karena terbentur batasan kuota, maka banyak yang tidak bisa kami daftarkan atau terima,” jelas Kelana Aprilianto. Menurut politikus asal Pasuruan itu, tidak adanya “mahar” politik bagi para Bacaleg yang mendaftar lewat Partai Hanura, juga dianggap ikut mendongkrak minat para pendaftar. “Nggak ada yang bayar, nggak ada itu,” tegas Kelana. (bet)



from Halo Dunia Network https://ift.tt/2miJj4q
via IFTTT
Read more ...